Menulis Fiksi itu Mudah (Ternyata)

Sebuah kata pengantar kepenulisan fiksi prosa. #1

Donny Setiawan
6 min readJan 20, 2024
Foto oleh Geilan Malet-Bates via Unsplash

Perlu diingat, apa yang membuat karya fiksi itu dapat dipandang dan dinilai sebagai karya hebat? Yaitu melalui tiga unsur dasar berikut:

  1. Plot
  2. Karakter
  3. Diksi

Menulis fiksi dengan plot yang bagus, memiliki para tokoh yang memiliki karakter unik, serta menghadirkan diksi atau penggunaan kata yang menarik dan siapa saja yang membaca karya fiksi seperti itu, pasti akan lebih mengapresiasi karya tersebut.

MUNGKIN ORANG AWAM terus beranggapan bahwa membaca fiksi itu membuang-buang waktu. Namun, apabila kita menguasai ketiga dasar unsur dalam menulis fiksi, seperti di atas, mungkin dapat MENGUBAH CARA PANDANG MEREKA.

TEMA

Langkah pertama, untuk memulai, carilah ide.

Kemudian, beralih ke bagian penting lainnya, TENTUKAN TEMA!

Apakah tentang cinta? tentang perang? tentang si tokoh? atau tentang hal-hal imajinatif lainnya, dapat Anda pakai untuk memulai menulis fiksi.

TOKOH

Jika ingin menulis fiksi TENTUKANLAH siapa yang menjadi sorotan dalam cerita itu.

Struktur profil merupakan gambaran dasar tokoh-tokoh yang nantinya akan mengisi cerita kita.

Gunakan tiga dasar patokan ini, dalam menentukan tokoh:

  1. Apa kekurangannya?
  2. Apa keinginannya?
  3. dan, apa kebutuhan?

INGAT! Setiap tokoh memiliki karakter dan ketiga patokan di atas.

Kemudian, tentukannya beberapa syarat dasar yang harus menggambarkan karakter setiap tokoh cerita Anda, seperti:

Profil Karakter

  1. Nama
  2. Pekerjaan
  3. Hubungan
  4. Sifat
  5. Gaya Hidup

Profil Fisik

  1. Warna/keadaan kulit
  2. Bentuk kepala
  3. Bentuk rambut
  4. Bentuk mata
  5. Bentuk hidung
  6. Bentuk alis
  7. Bentuk dagu
  8. Bentuk Bibir
  9. Bentuk wajah
  10. Bentuk badan
  11. Kumis (jika diperlukan)

STRUKTUR DALAM NARASI

Baiklah, sekarang Anda telah memiliki tokoh-tokoh yang dibutuhkan untuk membuat cerita. Sekarang, kita mulai melakukan penulisan. Untuk menulis fiksi, kita harus pandai menyusun paragraf per paragraf setiap babak cerita.

Setiap Bagian atau Bab per Babak, setidaknya memiliki dua jenis paragraf, yaitu:

  • Paragraf Pembuka
  • Paragraf Penutup

Dalam penulisan naskah prosa, baik prosa panjang maupun prosa pendek, pada intinya mempunyai struktur narasi yang sama.

Struktur narasi dasar dalam fiksi adalah introduksi, deskripsi, dan dialog. Ketiganya saling mengisi di setiap paragraf-paragraf dalam narasi fiksi.

1. Introduksi

Introduksi adalah jenis paragraf yang menyajikan paragraf pengantar, sebelum masuk dan berpindah dari satu babak ke babak lain, yang isinya menyajikan bahasan utama atau pokok permasalahan sebuah cerita.

Introduksi juga disebut sebagai babak yang menyajikan pengenalan.

Introduksi dapat dikategorikan menjadi tiga macam, yaitu introduksi aksi, introduksi deskripsi, dan introduksi dialog

Introduksi Aksi

Introduksi aksi adalah pembukaan yang didahului dengan beberapa kalimat yang menyajikan tindakan-tindakan yang disusul para tokoh maupun keterangan setelahnya.

  • Seperti, ‘Adrian melirik jam tangan. Ia berjalan menghadapi pintu yang menghalanginya, kemudian mendorongnya masuk,’ atau
  • ‘Jane berjalan di atas aspal yang basah. Sepatunya mematuk-matuk jalan seiring ia menoleh ke belakang.’

Kata seperti ‘berjalan’, ‘mendorong’, ‘menoleh’, merupakan kata yang menyajikan sebuah tindakan.

Introduksi aksi dalam novel:

Marianne membukakan pintu ketika Connell memencet bel.

kalimat pertama, Bab 1, Normal People karya Sally Rooney

Introduksi Deskripsi

Introduksi deskripsi biasanya ditulis dengan memberikan suatu keterangan mengenai siapa tokoh atau kapan dan dimana atau masalah apa yang dihadapi, baik tokoh utama maupun tokoh-tokoh lain, dalam fiksi.

Introduksi deskripsi cukup rumit dan agak berkelit dibanding pembukaan menggunakan introduksi aksi. Dalam pembukaan ini menggunakan kalimat-kalimat jemu seperti menyajikan informasi secara mendetil ‘apa dan bagaimana’ pembaca dapat memahami situasi dengan menggunakan kalimat desksriptif.

Introduksi deskripsi dalam novel:

Berikut ini adalah sebuah kisah sebagaimana tertulis dalam buku catatanku.

— kalimat pertama, Bab 1, His Last Bow karya Sir Arthur Conan Doyle.

Introduksi Dialog

Sebuah introduksi yang menyajikan dialog di awal paragraf bab pertama pada awal kalimat.

Biasanya, introduksi diawali dengan melibatkan suatu konflik, pengenalan tokoh, tempat, atau peristiwa.

Introduksi aksi dalam novel:

TOM!
Tak ada yang menyahut.
Tom!
Tak ada yang menyahut.
Di manakah anak kurang ajar itu? Tom! Tidak kau dengarkah aku memanggilmu?

— kalimat pertama, Bab 1, The Adventure of Tom Sawyer karya Mark Twain.

2. Deskripsi

Deskripsi bagian paragraf yang menyajikan pengetahuan atau informasi yang mendalam terhadap suatu tokoh, waktu, peristiwa, tempat, atau perasaan.

Deskripsi adalah hal yang lebih kompleks dari kedua jenis paragraf lainnya.

Deskripsi dapat dikategorikan, menjadi:

  • Deskripsi tokoh
  • Deskripsi benda
  • Deskripsi waktu
  • Deskripsi tempat
  • Deskripsi aksi
  • Deskripsi situasi
  • Deskripsi inderawi
  • Deskripsi keterangan
  • Deskripsi keterangan masa lalu, dan
  • Deskripsi pemikiran.

3. Dialog

Dialog adalah jenis paragraf yang menyajikan sebuah percakapan sebagai bentuk penyampaian jalan sebuah cerita.

Dialog bisa menyampaikan konflik, perasaan, tingkah laku tokoh, atau situasi tempat/waktu dan sebagainya.

Dialog merupakan jenis penyerdehanaan suatu paragraf dalam narasi fiksi.

KOMBINASI PARAGRAF DALAM NARASI

Kombinasi paragraf adalah perpaduan, mungkin bisa dikatakan resep, dalam narasi fiksi.

Tujuannya adalah untuk menyusun tiap kalimat di dalam paragraf narasi fiksi menarik.

Berikut salah satu contoh jenis kombinasi paragraf dalam narasi kontemporer:

Kuning = aksi, Biru = deskripsi, & Merah = dialog.
  1. (introduksi) aksi+deskripsi,
  2. dialog,
  3. dialog,
  4. aksi+deskripsi + aksi+deskripsi,
  5. dialog,
  6. dialog,
  7. aksi+deskripsi.

Sebuah paragraf dari tiap nomor. Nomor 1 berarti paragraf satu.

Dalam novel Normal People karya Sally Rooney (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia) memiliki kombinasi paragraf: aksi + deskripsi, dialog + dialog, dan aksi + deskripsi & aksi + deskripsi.

Atau, contoh jenis kombinasi paragraf dalam narasi yang lebih sederhana, dan yang paling cocok digunakan penulis pemula:

Kuning = aksi, Biru = deskripsi, & Merah = dialog.
  1. (introduksi) Deskripsi (waktu) + Deskripsi (keterangan) + Deskripsi (situasi)
  2. Deskripsi (keterangan)
  3. Deskripsi (pengenalan tokoh)
  4. Dialog + Dialog (timbal-balik: Jane dan Rake)
  5. Aksi + Deskripsi

Dalam novel Dragonblade karya Martin Baynton memiliki kombinasi paragraf: deskripsi + deskripsi + deskripsi, dialog, dan aksi + deskripsi.

Ternyata, kalau kita lebih mengenal paragraf, menulis fiksi akan lebih mudah dan mengasyikan, bahkan untuk jenis tulisan apapun.

BABAK DALAM NARASI

Babak adalah perhentian atau semacam stasiun dari keseluruhan rute lajur kereta api. Sepanjang rel kereta api memiliki titik perhentiannya, sama halnya dengan narasi fiksi.

Babak bisa berisi beberapa bab. Misalnya, pada babak awal berisi bab 1–8, kemudian babak pertengahan berisi bab 9–18, dan babak akhir berisi bab 19–24.

Setiap babak menentukan bagian dalam penceritaannya agar menarik dan bergerak.

Babak Awal

  • Pengenalan tokoh
  • Pengenalan tempat
  • Pengenalan konflik

Babak Pertengahan

  • Konflik awalan
  • Konflik menuju akhiran

Rumus: Yes, but… & No, and…

‘Ya, tapi… & tidak, dan…’ adalah sebuah rumus yang biasa dipakai dalam adegan pada babak konflik. Tujuannya yaitu untuk membuat jalan cerita menjadi lebih menarik dan menegangkan serta tidak membosankan.

Dalam rumus ini menggambar dalam setiap adengan dan tindakan selalu melahirkan konsekuensi baru.

Misalnya, dalam babak konflik, seorang penulis menulis paragraf (urutan paragraf mana saja) sebuah adegan seperti:

Dalam pengejaran seorang narapidana yang dilakukan polisi. Narapidana itu berhasil melarikan diri dan melompat ke dalam tong yang mengakibatkan polisi kehilangan jejak (Yes), tapi ternyata tong itu berisi bekas cairan mematikan yang dapat sekali hirup baunya akan mengakibatkan gangguan pernapasan (but).

Si narapidana tidak dapat menghilangkan jejaknya dari kejaran polisi (No), dan ia masih terus dikejar-kejar polisi (and).

Rumus: Yes, and… & No, but…

‘Ya, dan.. & tidak, tapi…’ adalah sebuah rumus yang biasa digunakan (kebalikan dari rumus pada babak konflik) dalam narasi fiksi untuk menggambar setiap adegan dan tindakan selalu berakhiran positif.

Polisi berhasil meringkus si narapidana (Yes), dan ia membawa orang itu kepada atasannya (and).

Di tengah perjalanan, narapidana itu berhasil membuka pengikat di tangannya dan menghilang dari Si Polisi (No), tapi untungnya rekan-rekan dari kepolisian berhasil menangkapnya duluan sebelum narapidana itu berhasil lari lebih jauh (but).

Rumus ini juga dapat digunakan pada adegan konflik menuju akhiran atau klimaks (babak penyelesaian) dan babak akhiran.

Babak Akhir

  • Konflik akhiran
  • Pengenalan akhiran (tokoh, tempat, konflik)

SHOW, DON’T TELL

Tell (Katakan)

PERLU DIINGAT! Sebaiknya hindari penggunaan Tell dalam menulis fiksi.

Kenapa? Karena akan terlihat membosankan dan seakan tidak menggerakan jalan cerita di benak pembaca. Pembaca pasti merasa bosan dan jenuh. Mereka membutuhkan jalan cerita yang menggerakan imajinasi mereka — bukan diberikan informasi ‘mati’ yang disampaikan secara pasif.

  • Malik adalah seorang pemalu dan tidak suka mencari perhatian

Hal itu cukup ditulis dan simpan untuk penulis, jangan dipublikasikan ke pembaca.

Penting pula bahwa penulis seharusnya menyimpan draf pra-tulisan, untuk mengingatkan poin-poin — sebelum penulis menulis menjadi draf untuk disunting.

Biasanya draf pra-tulisan itu bersifat kata sifat atau kata-kata yang mati (tidak bernyawa). Kata-kata seperti: ‘pemalu, sakit hati, marah, dsb.’ harus disampaikan melalui bentuk tindakan kepada pembaca.

Show (Tunjukkan)

Alih-alih menulis: Malik adalah seorang pemalu dan tidak suka mencari perhatian.

Sebaik diubah menjadi:

  • Ketika orang-orang sibuk bercerita dan tertawa di ruang tengah, Malik berdiam diri dalam kamarnya dan hanya meladeni buku-bukunya.

KATA PENUTUP

Menulis fiksi itu mudah, namun yang sulit itu adalah memulainya.

Ketika kita mengetahui struktur-struktur sederhana untuk menulis fiksi, apakah kita, sebagai penulis, akan mulai menulis fiksi?***

--

--