Mengenal ‘Passion’ Raden Saleh

Sebuah kata pengantar,

Dahulu di Hindia Belanda, hanya orang-orang dari kalangan tertentu yang dapat bersekolah. Bahkan sekolah-sekolah dasar swasta seperti mempunyai dinding penghalang bagi pelajar-pelajar yang tak terpandang. Orang-orang pribumi di Hindia Belanda masih tidak mendapatkan keserataan secara pendidikan.

Raden Saleh beruntung terlahir di kalangan aristokrat di Jawa. Ia juga merupakan seorang peranakan Jawa-Arab yang dikelilingi dengan gaya hidup mewah ala bangsawan Jawa. Raden Saleh cukup dikenal di kalangan orang-orang barat, yang saat itu di Hindia Belanda jelas kesenjangan sosial antara kulit putih, tionghoa, arab, peranakan (indo), dan pribumi.

Terlahir sebagai peranakan Jawa-Arab, tambah berdarah biru dari keluarga besar Bustaman, kedudukan Raden Saleh makin tak tergoyahkan. Hal itu makin diperkuat ketika ia diberi kesempatan oleh pemerintah Hindia-Belanda untuk pergi ke Belanda demi menekuni passion-nya di bidang kesenian, khususnya seni lukis.

Memilih Eropa daripada Pulang ke Jawa

Berkat dukungan kenalan-kenalannya di kalangan orang Belanda, A.A.J Payen (Pelukis Belanda) mengusulkan agar Raden Saleh disekolahkan di Belanda. Tak lama, segera diamini oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda saat itu, dan tinggal dan bersekolahlah ia di Belanda, selama kurang-lebih lima tahun.

Saat itu Raden Saleh, sebagai seorang pribumi Jawa, yang baru mengenal teknik melukis modern ala Eropa semakin menggeluti bidangnya. Kecintaan beliau terhadap dunia lukis diuji saat masa-masa akhir beasiswanya di Belanda, sementara ia memilih Eropa daripada pulang ke Jawa. Memilih untuk terus menggeluti passion-nya terhadap dunia seni rupa, yaitu melukis yang serasi dengan keelokan Eropa.

Sempat Menulis Autobiografi

Pada tahun 1839, saat ia masih muda, Raden Saleh sempat menulis autobiografinya sendiri yang memotret perjalanan kehidupannya selama di Eropa. Catatan itu kemudian hilang, namun (katanya) kini masih tersisa beberapa yang disimpan. Pemikiran beliau termasyur mengenai penggabungan antara unsur barat (Eropa) dan timur (Asia).

Di dalam autobiografinya, ia sempat menulis sebuah catatan yang isinya kurang lebih seperti ini:

“…potensi dua kutub yang saling bertentangan namun keduanya cerah dan ramah seperti kekuatan magis nan sakti yang mempengaruhi jiwaku. Di sana, Taman Firdaus masa kecilku di bawah terik matahari dan keluasan samudra Hindia yang gerumuh. Tempat tinggal orang-orang yang kucintai dan tempat nenek-moyangku bersemayam. Di sini, Eropa, negara-negara paling beruntung tempat kesenian, ilmu pengetahuan, dan pendidikan tinggi berkilau bagai intan permata yang memikat gairah masa mudaku.” — Raden Saleh

Aristokrat Berjiwa Romantis

Raden Saleh merupakan seorang perintis seni rupa modern pertama di Indonesia. Walau tak banyak karya-karyanya yang dibicarakan di tanah air, kini hanya baru pertama dipamerkan di Indonesia pada 2012 silam, di Galeri Nasional dengan tajuk ‘a Short Story of Raden Saleh’.

Pramoedya Ananta Toer menyebut beliau sebagai sosok Individu Nasional Pertama Indonesia. Ungkapan terkenalnya yaitu ‘Hargai Tuhan, Cintai Manusia’. Semasa hidupnya, banyak dari kalangan pejabat dan bangsawan di Eropa yang mengaggumi karyanya. Kisah legendaris terciptanya karya besar ‘Penangkapan Pangeran Diponegoro (1857)’ sangat terkesan dan berarti dalam membesarkan nama beliau.

Melawan Dengan Karya

Tahun 1850-an, Raden Saleh akhirnya pulang ke Hindia Belanda. Setelah hampir menghabiskan dua puluh tahunnya di Eropa, merasa ia diperlakukan sebagaimana manusia, ketika pulang ke tanah air keresahan jiwanya kembali menggerogotinya. Kesenjangan yang terjadi di kalangan kulit putih dan pribumi sangat terasa.

Walau selama ini ia hidup dengan kemewahan kebangsawanannya, ia tak pernah lupa terhadap nasib sebangsanya, orang Jawa, karena saat itu Raden Saleh masih bekerja untuk pemerintah Hindia Belanda. Sebuah peristiwa yang tak pernah dilupakan olehnya ketika Jawa digenangi oleh banjir hebat. Keresahannya tergambar jelas dari lukisannya ‘a Flood in Java’, dimana tergambarkan orang-orang jawa (pribumi) harus berjuang menyelamatkan diri mereka, sendiri. Satu tanda tanya bagi Raden Saleh: dimana pemerintah Hindia Belanda saat itu?

Salahsatu duplikat lukisan karyanya yang bertajuk ‘a Flood in java’ dapat dilihat di Museum Kebangkitan Nasional saat ini.***

--

--

Student of Indonesian Education & Literature Department.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store