Kenapa Kita Meromantisasikan Hidup

“Ada hal yang hilang di diri Tuan rumah itu sejak lama. Semua itu berbuah manis karena perkara tentang orang-orang yang pernah meninggalkan, kemarahan yang menjulur, dan pengharapannya yang tak terbendung. Hingga tanpa sadar malah membuat si Tuan rumah turut pula bertindak seperti yang pernah terjadi. Terhadap orang-orang di sekelilingnya, terhadap masa-masa yang pernah ada. Membuat diri sendiri terjerembab kepada lingkaran yang sama — ilham dari masa lalu.

Masa yang telah lewat datang tanpa syarat. Tuan rumah menyambut dengan suka ria. Kesedihan jadi buah yang matang dan Tuan rumah turut memperlakukan tamunya seperti halnya ia membutuhkannya. Tak ada yang menyangkal. Tak ada yang merawat Tuan rumah sejak lama. Sampai akhirnya ia dapat bergantung hidup pada tamunya — kesedihan lama.”

Analogi di atas merupakan anti-tesis atau keterbalikan dari konsep romantisasi, yaitu deromantisasi. Salah satu konsep yang kita anut sejak kita masih belum dewasa. Yang menyatakan bahwa setiap manusia berhak memiliki kasih sayang yang setimpal — kenyataannya tidak semua orang memiliki kadar yang sama.

Hal itu yang mendorong insan manusia setengah matang untuk bertindak sebagaimana ia me-’romantisasikan’ dirinya dengan orang-orang ataupun hal-hal yang ada di sekelilingnya. Terdorong dari kepahitan masa lalu yang dapat menjadi dirinya lebih pahit di masa datang. Seperti menyebarkan kepahitan yang sama — kadar yang sama. Rasa ketidakdilan yang pernah dialami menjadi pekat di kemudian harinya.

Mari kita bercerita tentang hari ini. Bukan untuk menyangkal besok. Bukan juga menyinggung kemarin. Kita yang sekarang. Kita yang hari ini. Sesaat pandemi yang telah menenggelamkan hampir tiga tahun. Banyak hal yang hilang. Banyak hal pula yang datang. Saya percaya banyak dari orang-orang yang kita kenal sebelum pandemi setelahnya sudah sepenuhnya berubah. Setiap manusia berubah. Terlebih diri pribadi.

Banyak hal yang ingin dikisahkan. Tentang hari ini. Tentang kemarin. Juga untuk besok. Hingga suatu ketika terbesit di dalam diri: Mari kita lupakan perkara tentang ingin disenangi. Tentang pujian. Tentang pengharapan. Bahkan hal yang sering disangkal. Tentang amarah. Tentang kegagalan.

Untuk hari ini, berhentilah sejenak bila sudah dirasa cukup penat. Jangan sungkan meminta bantuan. Manusia lebih berharga bagi manusia lain. Selalu ada saja kisah yang ingin diceritakan. Jangan membantah. Juga turut jangan terlalu keras terhadap diri sendiri. Memang dunia tempatnya manusia salah. Lebih salah jika ia tetap menagih tentang perasaan-perasaan tak terbalaskan di masa yang telah dilewatinya.

Kenapa kita senang meromantisasikan hidup? Karena tidak semua manusia memiliki dan dianugerahi sesuatu yang setimpal. Setiap manusia memiliki kadarnya sendiri. Kenapa kita senang meromantisasikan hidup? Mungkin saat itu kita hanya sebatas manusia yang setengah matang, yang hanya memandang hanya dari balik kacamata milik kepunyaan diri sendiri — yang pasti memiliki kadar berbeda dari manusia lain.***

--

--

Student of Indonesian Education & Literature Department.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store