Jangan Mau diperbudak Buku

Donny Setiawan
4 min readOct 26, 2023
Foto oleh Jason Wong via Unsplash

Abstrak

Disuatu hari yang cerah dan panjang. Kami berniat untuk berkunjung ke perpustakaan.

Kami memang biasa melakukan kunjungan ke tempat-tempat umum seperti perpustakaan, atau kalau jenuh ke museum.

Kawan saya ini orangnya kritis. Apa saja dipertanyakan oleh dia. Waktu itu, kami pernah berselisih karena ia terlalu mempermasalahkan hal sepele, dan saya orang yang tidak mau mempermasalahkan sesuatu.

Ia menyalahkan saya karena ‘bodo amat’. Sementara, saya jengkel atas perilakunya yang ‘serba dipermasalahkan’.

Sewaktu kami berkunjung ke perpustakaan, ia selalu memperhatikan, seperti biasanya.

Kami berniat untuk meminjam beberapa buku untuk kami baca di rumah kami masing-masing.

Ia dengan buku-buku pilihannya. Saya dengan buku-buku pilihan saya, walau kadang ia memprotes supaya saya meminjam buku yang menurutnya itu perlu untuk saya. Namun, saya beralasan bahwa saat ini belum terlalu membutuhkannya.

Ia kemudian kecewa dan kembali mempermasalahkan hal tersebut. Ia memberi komentar bahwa ia ingin saya membaca buku-buku yang dapat mengubah saya.

Sewaktu ketika, masih di dalam perpustakaan, sembari mengisi waktu kosong, kami berencana untuk sedikit duduk-duduk santai sebelum sore hari. Karena siang menurut kami panas untuk keluar.

Kami masing-masing membaca buku kami masing-masing. Saya asik dengan buku saya, dia asik dengan buku bacaannya.

Hingga beberapa waktu kemudian, ia menutup bukunya, dan berkata bahwa ia ingin tidur barang beberapa menit sebelum kami pulang.

Saya jawab ‘oke’, walau mata saya masih memperhatikan kalimat-kalimat di buku yang saya pegang. Masalahnya saya tidak terlalu memperhatikan dia.

Hanya beberapa menit, ia terbangun dan menanyakan pukul berapa sekarang. Saya jawab (masih memperhatikan buku) tepat pukul tiga.

Kemudian kami sepakat pulang. Namun, sebelum kepergian kami dari tempat duduk, ia sempat bertanya: “Sudah selesai?”

Lalu, saya jawab, dengan sikap saya yang memang tidak peduli terhadap sesuatu hal yang ‘tidak perlu dipermasalahkan’: “Sudah.”

Saya terkejut dengan reaksinya ketika saya mengatakan itu, “Cepat sekali. Bukannya itu buku tebal?”

Karena saya tahu sikapnya, kemudian saya memberi pengertian terhadapnya bahwa maksud saya, sudah selesai bacanya, dengan maksud bukan ‘selesai’ baca (seluruh) buku tersebut melainkan aktifitas membacanya.

Kemudian, seperti biasa, ia tak terima. Dan, karena saya orangnya tidak mempermasalahkan sesuatu, saya biarkan ia memenangkan argumennya. Dengan nilai akhir: Saya salah. Dia benar.

Itu pun belum selesai kami berselisih paham. Sewaktu saya meminjam buku pun ia masih memberi komentarnya.

“Banyak sekali buku yang dipinjam. Memangnya bakal selesai?” katanya.

Masalah

Kepada orang-orang yang pernah atau sering yang mengalami kejadian barusan, tentang pendapat:

  • “Membaca buku itu harus selesai”, atau
  • “Membaca baca buku itu harus tahu seluruh isinya”, atau
  • “Membaca buku itu kamu harus tahu segala hal.”

Melelahkan bukan?

Ya, saya tahu. Hal itu bagi saya menjengkelkan. Mungkin perasaan itulah yang mendorong saya untuk menulis ini.

Kita harus menyingkirkan pemikiran kuno terhadap hal tersebut. Suka atau tidak.

Ada pepatah yang mengatakan, kurang lebih begini, namun dari isinya saya ubah total tapi tidak mengubah maknanya:

JANGAN MENJADIKAN KITA SEBAGAI ALAT BAGI BUKU. SEBALIKNYA, JADIKANLAH BUKU ALAT BAGI KITA.

  • Bacalah menurut kalian kegiatan itu menyenangkan hati kalian.
  • Bacalah selagi kalian sempat.
  • Bacalah sampai buku-buku di rumah berantakan.

Lakukan hal yang membuat hati kalian senang, bukan orang lain senang.

Belakangan ini saya setuju dengan komentar:

TIDAK ADA ORANG YANG SENANG MELIHAT ORANG LAIN SUKSES. (anggaplah aktifitas membaca itu kesuksesan)

Kalau hidup di zaman sekarang ini masih dipusingkan dengan stigma, yang orang pintar membaca buku atau membaca buku berarti orang pintar, mau sampai kapan negeri tercinta kita ini tertinggal terhadap aspek literasinya, kalau saja urusan ‘membaca’ masih saja dipermasalahkan.

Kenyataannya, musuh kita yaitu harus berhadapan dengan stigma masyarakat yang memandang bahwa ‘membaca buku adalah tindakan yang mahal’.

Mahal waktunya, mahal tenaganya, mahal biayanya. Bayangkan, berapa jam kita menghabiskan waktu untuk menyelesaikan satu buku? berapa banyak pekerjaan di dalam otak supaya fokus membaca kalimat demi kalimat? berapa banyak rupiah yang kita keluarkan untuk 1 bukunya?

Karena ‘mahal’, orang-orang ini — saya sebut saja begitu — hanya cuma mau bertindak praktis dengan menghakimi ‘para pembaca’ dengan menanyakan hal ini dan hal itu, tanpa mau berpikir dengan pikirannya sendiri.

Membaca itu butuh effort. Butuh perjuangan.

Konklusi

Karena itu, bersyukurlah bagi orang-orang yang masih ingin membaca, bukan karena ingin dipandang orang, melainkan ingin untuk hatinya.

Bersyukurlah bagi orang-orang yang masih ingin membaca, walau orang-orang di luar sana menyinyir Anda tidak membaca buku sampai habis.

Bersyukurlah bagi orang-orang yang masih ingin membaca, walau orang-orang di luar sana meremehkan Anda karena masih lupa isi buku.

Bersyukurlah bagi orang-orang yang masih ingin membaca, walau orang-orang di luar sana kecewa kepada Anda karena masih tidak tahu apa-apa.

Tugas kita sebagai pembaca bukan berusaha supaya membuat mulut mereka diam, atau buat mereka kalah dan kita menang. Tapi, mencoba memikirkan satu sama lain, mengapa kita membaca?***

--

--