Foto oleh Jan Kahánek via Unsplash

Saya kesal terhadap tulisan saya. Saya jenuh terhadap kesempatan untuk menulis.

Setiap kali saya menulis, selalu ada saja niat untuk menekan tombol backspace.

Perlukah saya copot tombol itu? ataukah saya harus tetap menulis?

Tak peduli seberapa jeleknya tulisan saya. Saya harus tetap menulis!

Pikir saya seolah sudah matang.

Menulis adalah nafas saya. Tanpa menulis saya kehilangan hidup saya.

Tidak ada paru-paru yang menerima oksigennya. Itulah, tubuh saya bila tidak menulis.

Apakah perlu menulis tulisan yang begitu indah? Tak pernah terpikirkankah pada orang yang berusaha menuliskannya.

Terputus-putus setiap kali. Tombol backspace dan penghakiman pribadi jadi pemandangan sehari-hari.

Para pembaca yang budiman. Mohon manusiawikan sedikit terhadap penulis-penulis seperti saya. Yang membenci ketidaktahuannya, yang menghakimi ketidakberdayaannya.

Apakah masih kurang bahan bacaannya? Apakah semakin malas dalam pekerjaanya?

Barangkali masih tidak ada yang lebih penting selain menghindari ketidakpuasan.

--

--